Di sudut gang sempit kawasan Ciracas, Jakarta Timur, aroma gurih bakwan dan pisang goreng panas mulai mengepul sejak pukul enam pagi. Di balik wajan besar itu, senyum Bu Siti (48 tahun) kini merekah lepas—sesuatu yang dua tahun lalu terasa mustahil baginya.
Jeratan Bank Keliling yang Mencekik
Sebagai ibu tunggal yang harus menghidupi dua anak usia sekolah setelah suaminya wafat, Bu Siti tidak punya banyak pilihan. Demi menyambung hidup dan membeli bahan baku tepung serta minyak, ia terpaksa meminjam uang ke rentenir keliling sebesar Rp 500.000 dengan potongan awal Rp 50.000 dan kewajiban mengangsur Rp 25.000 setiap sore selama 30 hari.
Setiap sore kalau dengar suara motor mereka di depan gang, dada saya langsung sesak Mas. Untung jualan habis cuma buat bayar bunga. Kalau tidak bayar, mereka berdiri di depan warung bikin malu sama tetangga, kenang Bu Siti dengan mata berkaca-kaca.
Hadirnya Tim Pendamping Kampung Sedekah
Kondisi Bu Siti pertama kali teridentifikasi oleh relawan Kampung Sedekah Indonesia saat melakukan pemetaan mustahik lingkungan RT setempat. Melalui musyawarah tim penyaluran dan tokoh masyarakat, Bu Siti masuk dalam prioritas penerima manfaat program Bebas Rentenir & Gerobak Berkah.
Bantuan yang disalurkan bukan sekadar uang tunai, melainkan paket kemandirian komprehensif:
- Pelunasan Pokok Utang Riba: Tim advokasi KSI menegosiasikan pelunasan sisa pokok utang langsung kepada pihak kreditur tanpa membayar bunga riba tambahan.
- Unit Gerobak Usaha Baru: Gerobak stainless steel higienis dengan branding rapi dan kompor gas standar keselamatan kerja.
- Modal Usaha Bergulir Syariah (Qardhul Hasan): Dana segar Rp 1.500.000 tanpa bunga, tanpa denda keterlambatan, dan dicicil seringan kemampuan dari laba bersih.
- Pendampingan Spiritual & Keuangan: Pelatihan pembukuan sederhana dan pembinaan sedekah subuh setiap pekan.
Kini Mandiri dan Mulai Berinfak
Enam bulan setelah pendampingan berjalan, omset harian Bu Siti melonjak hingga 140%. Dari gerobak barunya, ia kini mampu meraup keuntungan bersih Rp 150.000 hingga Rp 220.000 per hari. Anak sulungnya kini telah menyelesaikan ujian SMK, dan adiknya lancar bersekolah di SMP negeri setempat.
Yang paling menyentuh hati, setiap hari Jumat Bu Siti selalu menyisihkan 10 porsi gorengan hangat dan uang tunai Rp 10.000 ke dalam kotak infak Yayasan Kampung Sedekah. Dulu saya yang diangkat dari lumpur, sekarang saya mau ikut bantu narik saudara-saudara saya yang masih terjebak di bawah, tuturnya penuh haru.
Kisah Bu Siti adalah bukti nyata bahwa sedekah yang Anda titipkan tidak lenyap menjadi konsumsi sesaat, melainkan tumbuh menjadi benteng kemuliaan hidup dan pembebas martabat umat.